Rindu di Balik Jeruji

Rindu di Balik Jeruji

Spread the love

Tebing Tinggi — Mediakompas. Id.

Ada pepatah lama yang mengatakan, “kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tebing Tinggi, pepatah itu terasa nyata pada Rabu (11/3/2026) sore.

Suasana haru menyelimuti halaman apel pegawai ketika warga binaan pemasyarakatan (WBP) dipertemukan dengan keluarga mereka dalam acara buka puasa bersama.

Sore itu, gema selawat bersahutan dengan suara tawa anak-anak yang berlari kecil di halaman.

Di tempat yang biasanya menjadi area apel pegawai, rindu yang lama terpendam akhirnya menemukan jalannya.

Bagi para warga binaan, momen ini bukan sekadar berbuka puasa, tetapi juga kesempatan langka untuk menatap wajah orang-orang terkasih tanpa sekat ruang kunjungan yang kaku.

Acara tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Lembaga Pemasyarakatan Tebing Tinggi, Dede Mulyadi, bersama jajaran pejabat struktural, staf, serta regu pengamanan. Para CPNS juga dilibatkan untuk membantu mengatur alur kunjungan keluarga agar kegiatan berjalan tertib.

Menurut Dede, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial Ramadan.

Ia menegaskan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak hanya soal disiplin dan keamanan, tetapi juga tentang memanusiakan manusia.

“Dalam proses pembinaan, dukungan keluarga adalah fondasi penting.

Kami ingin warga binaan tetap memiliki harapan dan semangat untuk kembali ke masyarakat,” ujarnya.

Di tengah suasana tersebut, beberapa warga binaan tampak tak kuasa menahan haru saat memeluk anak dan orang tua mereka.

Ada yang sekadar menggenggam tangan istrinya lebih lama, ada pula yang sibuk menyiapkan makanan kecil untuk anak yang datang berkunjung.

Momen-momen sederhana itu terasa begitu berharga di tempat yang sehari-harinya dipenuhi rutinitas pembinaan.

Pepatah lain mengatakan, “sejauh-jauhnya burung terbang, akhirnya kembali ke sarang.” Bagi para warga binaan, keluarga adalah sarang yang menjadi tempat kembali, sekaligus pengingat bahwa kehidupan di luar jeruji masih menanti.

Meski suasana berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, aspek keamanan tetap menjadi prioritas.

Regu pengamanan ditempatkan di sejumlah titik strategis untuk memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib. Prosedur pemeriksaan tetap dilakukan terhadap para pengunjung yang datang.

Pemilihan halaman apel pegawai sebagai lokasi kegiatan juga bukan tanpa alasan.

Area terbuka ini dinilai lebih ramah bagi anak-anak dan orang tua yang datang berkunjung, sehingga mereka dapat menikmati suasana yang lebih santai dibandingkan ruang kunjungan biasa.

Kegiatan buka puasa bersama itu pun berakhir dalam situasi yang kondusif.

Tidak hanya meninggalkan kesan haru, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pendekatan humanis dalam pemasyarakatan bukan sekadar slogan.

Sebab pada akhirnya, seperti kata pepatah, “air yang keruh bisa kembali jernih.” Dengan pembinaan yang tepat, dukungan keluarga, dan kesempatan memperbaiki diri, para warga binaan diharapkan mampu kembali menjadi bagian utuh dari masyarakat ketika masa hukuman mereka berakhir.

Suhairi (Gogon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *