[6/3, 19.58] Amin Medan.: Wawasan Nusantara:
Kelestarian Semangat Generasi Zoomers Akan Bahasa Daerah.
Mediakompas.com.
Wawasan Nusantara secara etimologis-nya terdapat dua gabungan kata yakni Wawasan dan Nusantara.
Wawasan berasal dari kata Wawas(bahasa jawa) yang berarti pandangan, tinjauan dan penglihatan indrawi, sedangkan Nusantara digabungkan 2 kata terpisah Nusa dan Antara,Nusa artinya pulau atau kesatuan kepulauan, sedangkan Antara artinya menunjukanletak antara dua unsur, jadi dengan artinya Nusantara adalah kesatuan kepulauan yang terletak antara Dua benua, yaitu benua Asia dan Australia dan dua samudra yaitu samudra Hindia dan Pasifik.
Berdasarkan pengertian modern, kata “Nusantara” Di gunakan sebagai pengganti nama Indonesia.
Wawasan Nusantara sebuah pandangan, penglihatan akan pemahaman kepada bangsa Indonesia tentang keragaman budaya, sosial politik, tradisi adat, bahasa daerah dan geografi yang sebagai dasar kerukunan akan bangsa Indonesia.
Menurut kelompok kerja Wawasan Nusantara untuk di usulkan menjadi Tap. MPR, yang di buat Lemhannas thn 1999,yaltu”cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan nya yang serba beragam dan bernilai strategisdengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan Nasional.
Peran wawasan Nusantara juga membangun semangat generasi Zoomers atau Gen Z terutama akan ragam bahasa daerah. Generasi Z di kaitkan lahir thn 1997 sampai thn 2012 dan ketika lahir sudah hidup di dunia yang sudah terhubung dengan Internet dan Media Sosial sehingga mempengaruhi cara pandang mereka, pandangan mereka akan keberagaman budaya termasuk bahasa daerah yang sering di sebut bahasa Ibu.
Bahasa daerah merupakan komponen budaya yang penting dalam mempengaruhi penerima serta prilaku manusia, perasaan dan juga kecenderungan manusia untuk mengatasi dunia sekeliling dalam hal ini bahasa memiliki nilai budaya di dalam nya yang menyiratkan adat istiadat, kerohanian dan nilai dari leluhurnya(pandaleke, TF. Dkk 2020).
Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sering di anggap lebih penting untuk pendidikan dan karier, akibatnya, banyak orang tua dan sekolah lebih fokus pada pengajaran bahasa bahasa asing dari pada bahasa daerah.
Hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa 37,18%Generasi Z yang mampu berbicara bahasa daerah dengan fasih dan kurang meminati penggunaan bahasa Indonesia baik yang formal mau pun non formal.
Hal ini di sebabkan GenerasiZ menghabiskan waktunya sekitar lebih dari 6 jam dalam menggunakan ponsel dan biasanya lebih sering berkomunikasi melalui media sosial di bandingkan dengan generasi sebelumnya(Wulandari2023).
Ada poin perlu melestarikan bahasa daerah Indonesia yaitu:
1.Bahasa daerah adalah warisan budaya dan menjadi indentitad diri dari Ayah dan Ibu ketikalahir.
2.Menjadi peluncur dan pelindungan warisan budaya bahasa daerah dari hilang punah bahasa daerah.
3.Jumlah bahasa daerah Indonesia mencapai 718 bahasa dari 2560 daerah dari (data pengamat Kemendikbud )yang tidak boleh hilang dan berkurang.
4.Dampak hilangnya bahasa daerah memicu hilangnya keaneka ragaman budaya, Indentitas budaya dan moralnya sopan santun tradisional dari nenek moyang terdahulu.
Beberapa Kategori bahasa daerah suatu provinsi daerah terancam punah adalah: Bahasa Reta di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur(NTT),Bahasa Saponi di Kabupaten Waropen,Papua, Bahasa daerah Ibo, Kabupaten Halmahera barat dan Bahasa Meher Di pulau Kisar, Maluku.
Bagaimana menumbuhkan semangat kelestarian bahasa daerah di kalangan Generasi Zoomers hingga generasi-generasi lainnya yaitu:Dengan cara pertama;menggunakan bahasa daerah ketika berbicara di lingkungan keluarga dan menambah bahasa daerah di pendidikan Formal,
Kedua kerja sama balance di dunia film Indonesia yang menayangkan genre menggunakan cerita daerah yang dapat menumbuhkan antusias ingin tau nya Generasi Z akan lingkungan daerah seperti film:Ngeri-ngeri sedap yang menggunakan bahasa Batak Sumatera, Yuni menggunakan bahasa Jawa-Serang, Sang Penari(2011) menggunakan bahasa Madura
Ketiga, meningk
[6/3, 20.01] Amin Medan.: Ketiga, meningkatkan Literasi dini terhadap bahasa daerah dan bangga ketika berbicara bahasa daerah dalam pergaulan sehari hari.
Kesimpulan:
Banyak anak muda zaman Gen Z dan generasi lain nya menganggap menggunakan bahasa daerah adalah hal ketinggalan zaman dan tempoe dulu, apa lagi yang lahir di perkotaan dan tidak di biasakan dalam keluarga berbicara sehari hari maka akan pasif dalam menggunakan bahasa daerah.
Bahasa daerah adalah warisan budayayang sangat perlu di lestarikan agar setiap tutur kata yang ada tidak pernah hilang.
Bahasa daerah juga sebagai Indentitas lokal satu daerah, memberikan kekayaan pada daerah tersebut dan meningkatkan saling menghargai dan solidaritas sosial.
Sebagai contoh bahasa daerah Karo Sumatera Utara, bahasa daerah ini memiliki khas pantun Karo(Ndung-ndungen), penyampaian nasihat melalui cerita(Turi-Turin) dan memamerkan seni sastra Lisan bahasa Karo yang harus di lestarikan.
Migrasi juga yang di lakukan perantauan ke daerah lain juga membantu memperkenalkan indentitas suku Karo dengan keberagaman budaya terutama belum mengenal suku yang berada di Sumatera Utara.
Generasi muda atau Gen Z di harapkan berperan lebih sebagai agen perubahan yang aktif, inovatif dan menarik seperti pemanfaatan Media Sosial untuk menciptakan konten dalam bahasa daerah yang ada di Indonesia yang relevan dan menarik bagi audens yang lebih luas sehingga bisa menembus ke luar negeri tahu bahwa Bahasa daerah Indonesia ada dan tidak hilang.
Penulis:Taruna Madya Daniel Sembiring.
