Pasaman, mediakompas.id —
Serangan hama tikus merusak puluhan hektare sawah milik petani di Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Akibatnya, sejumlah petani terancam gagal panen dengan potensi kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
Berdasarkan laporan sementara, luas lahan persawahan yang terdampak mencapai sekitar 20 hektare. Serangan hama tikus terjadi secara bertahap sejak beberapa pekan terakhir dan terus meluas dari beberapa petak sawah ke hamparan pertanian lainnya.
“Awalnya hanya beberapa petak, tapi terus menyebar. Sekarang banyak sawah yang rusak dan tidak bisa dipanen,” ujar seorang petani di Nagari Panti, Kamis (22/1).
Sebagian besar tanaman padi yang terserang hama diketahui telah memasuki fase generatif atau menjelang berbuah, sehingga kerusakan tersebut berpotensi menyebabkan gagal panen total.
Berbagai upaya pengendalian telah dilakukan petani secara swadaya, mulai dari pemasangan perangkap hingga gropyokan massal. Namun, tingginya populasi tikus membuat langkah-langkah tersebut belum membuahkan hasil yang signifikan.
Camat Panti, Refrizal, membenarkan adanya serangan hama tikus yang meluas di wilayahnya. Ia mengatakan pihak kecamatan telah menerima laporan dari kelompok tani dan melakukan peninjauan langsung ke lokasi persawahan.
“Kami sedang mendata luasan sawah yang terdampak dan telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk langkah penanganan lebih lanjut,” kata Refrizal.
Sementara itu, Kepala Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Pasaman, Jol April, menyampaikan bahwa pihaknya akan melakukan verifikasi lapangan sebelum menentukan metode pengendalian.
“Apabila hasil verifikasi menunjukkan serangan hama tikus berskala luas, kami akan melakukan pengendalian hama terpadu bersama petani dan pemerintah nagari,” ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Usaha Bersama Jon Wilma berharap Pemerintah Kabupaten Pasaman dapat memberikan perhatian khusus, terutama berupa bantuan benih serta dukungan modal untuk tanam ulang lahan yang terdampak.
Bagi petani, gagal panen tidak hanya berarti kehilangan hasil produksi, tetapi juga hilangnya sumber penghidupan. Mereka berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret agar serangan serupa tidak kembali terulang di wilayah pertanian lainnya.
(Abdi Novirta)
